Siaran Pers : KEMATIAN ORANGUTAN DI TAMAN SATWA SOLO DAPAT DICEGAH

(13 Juli 2009)


Untuk disiarkan segera.

Centre for Orangutan Protection (COP) menyesalkan kematian satu Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) yang berada di Taman Satwa Taru Jurug Solo. Seharusnya, kematian tersebut dapat dicegah jika Weni Ekayanti, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kodya Solo selaku salah satu anggota tim pengelola bersedia bekerja sama dengan para pihak yang ingin membantu.

Pada bulan April 2009, Centre for Orangutan Protection melakukan penelitian mengenai kondisi orangutan di 5 kebun binatang di Jawa. Hasilnya, Taman Satwa Taru Jurug merupakan kebun binatang terburuk. Orangutan tidak dipelihara dengan baik dan hal ini berakibat pada penderitaan fisik dan kejiwaan. Secara khusus, dua orangutan di sana sudah menunjukkan tanda - tanda kelainan jiwa (gila) karena stress berat yang berkepanjangan.

“Situasinya sudah sangat kritis di sana. Orangutan jantan yang bernama Toni ditempatkan dalam sebuah encosure berlantai semen. Tidak ada air minum dan juga peralatan untuk bermain yang dapat mengalihkan orangutan dari kebosanan. Para pengunjung dengan bebas bisa memberi makanan, rokok dan menyakiti orangutan. Sedangkan orangutan betina bernama Tina ditempatkan dalam sebuah terowongan penghubung enclosure yang sempit, maksimum hanya 1 x 2 meter. Ini jauh lebih buruk. Orangutan Tina tidak dapat bergerak ke manapun, termasuk akses ke kebutuhan dasar seperti air minum dan makanan,"

"Kondisi - kondisi buruk seperti inilah menyebabkan mereka menjadi stress. Para peneliti mendapati orangutan Toni memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan dan kemudian memakannya kembali. Demikian dilakukan berulang - ulang. Toni juga menyukai rokok yang diberikan para pengunjung. Ini merupakan ancaman serius pada kesehatan orangutan. Sementara itu, orangutan Tina membenturkan kepalanya ke dinding. Pada dasarnya, gejala gangguan jiwa pada orangutan bisa dikatakan sama persis dengan manusia karena secara biologis manusia dan orangutan dikelompokkan dalam satu kelompok yang disebut primata. Orangutan juga memiliki DNA yang mirip dengan manusia, yakni 97,3%, “ kata Seto Wibowo, Captivity Program Coordinator dari Centre
for Orangutan Protection.

Penelitian dilakukan dengan mengamati orangutan selama 30.000 detik dengan rincian 10.000 detik pada pagi hari, 10.000 detik pada siang hari ini dan 10.000 detik pada sore hari. Total 3 hari. Standar penelitian yang dipakai berasal dari World Society for Protection of Animals (WSPA). Peneliti juga didampingi oleh photographer dan videographer.  Sayangnya, para peneliti tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai usia pasti kedua orangutan di Taman Satwa Taru Jurug, karena memang tidak ada catatan apapun mengenai riwayatnya. Termasuk catatan medisnya. Centre for Orangutan Protection
memperkirakan bahwa Orangutan yang bernama Toni berusia lebih dari 15 tahun sedangkan Tina berusia lebih dari 6 tahun. Namun karena malnutris yang berat, penampilan kedua orangutan tersebut nampak lebih kecil dan lebih lemah dari orangutan normal.

Centre for Orangutan Protection telah menyerahkan hasil penelitian tersebut kepada Pemda Solo dan secara intensif juga mengkomunikasikan upaya - upaya perbaikan kondisi. Saat ini, Taman Satwa Taru Jurug dikelola secara bersama oleh Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pariwisata, Dinas Tata Kota dan Asisten 3 Bidang Perekonomian Kantor Walikota Solo. Centre for Orangutan Protection telah menawarkan beragam opsi termasuk komitmen untuk membantu pendanaannya. Berikut ini opsi - opsi tersebut:
1.    Memperbaiki enclosure. Selama masa perbaikan, orangutan dititipkan di
        Pusat Penyelamatan Satwa Jogja.
2.    Memindahkan orangutan ke pulau yang berada di tengah - tengah danau
yang terletak dalam Taman Satwa Taru Jurug. Ini adalah opsi terbaik karena
pulau tersebut memiliki pohon yang cukup besar untuk orangutan dapat hidup
normal seperti layaknya orangutan liar.

Seluruh opsi ditolak oleh Kepala Dinas Pertanian, meskipun para pihak yang lain secara umum menyetujuinya, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah. Kini orangutan di Taman Satwa Taru tingga satu dan dapat mati sewaktu - waktu karena buruknya pemeliharaan.


Untuk informasi lebih lanjut harap menghubungi:

Seto Wibowo, Captivity Program Coordinator COP.
Email            : seto.wibowo@cop.or.id
HP                : 08121156911

Hardi Baktiantoro, Principal COP
Email            : hardi.baktiantoro@cop.or.id
HP                : 08121145911

Jika anda membutuhkan dokumentasi foto harap menghubungi:
Hery Susanto, Photo Desk COP
Email            : hery@cop.or.id
HP                : 08121147911


picture captions:
FIN_3272.JPG = Makanan sehari-hari Toni dan Tina adalah nasi bungkus. Hanya
nasi, tanpa lauk apapun.
FIN_3014.JPG = Tina dalam lorong berukuran 1x2 meter. Orangutan kecil ini
menjalani hari-harinya dalam kandang sempit seperti ini.
FIN_3096.JPG = Tina mencoba rokok yang diberikan pengunjung kebun binatang
Solo.
FIN_3000.JPG = Sampah bertumpuk dalam kandang, alas tidur buat orangutan.

********************************************


Jakarta, July 13, 2009

Press Release
DEATH OF ORANGUTAN AT SOLO ANIMAL PARK COULD BE PREVENTED
to be published immediately


The Centre for  Orangutan Protection (COP) deeply regrets the death of Toni,
a Kalimantan Orangutan (Pongo Pygmaeus) at the Taru Jurug Animal Park in
Solo, Central Java. It could have been prevented if only Weni Ekayanti, Head
of Agricultural and Farming Agency of Solo administration -- as a member of
the park's management team -- was willing to collaborate with others who
wanted to help.

In April 2009, COP conducted a research on orangutan conditions in 5 zoos
across Java. The research showed that Taru Jurug Animal Park in Solo has the
worst condition. Orangutan was not decently cared for and this has caused
physical and mental sufferings. Specifically for the two orangutans in this
zoo, they had shown signs of mental deviancy due to continued high stress.

Seto Wibowo, Captivity Program Coordinator of COP, said, "The situation at
Solo's zoo was very critical. Toni, the male orangutan, was placed in a
concrete-floored enclosure. There was no fresh water and nothing to play
with, not even a thing to capture his attention from being bored."

"Visitors can give food or cigarette anytime to the orangutan. They even
hurt them intentionally," Seto said.

Tina, the female orangutan, was placed in a narrow tunnel in a size of 1 x 2
meters. This is worse. Tina cannot move anywhere, she does not have access
to water and food. These terrible conditions have caused them great stress.
The researchers found that Toni, the male orangutan, had the habit of
throwing up his meals and re-eat his own vomit. He did this repeatedly, Seto
said.

"Toni also liked cigarettes, which the zoo's visitors often give him. It
seriously threatened the health of the orangutans. Tina liked to hit her
head over and over to the wall," he said. "Basically, symptoms of mental
illness in orangutans are similar to human because biologically humans and
orangutans are primates. Orangutans also have 97.3% similar DNA as human,"
he explained.

The research was conducted by watching orangutans for as long as 30,000
seconds divided to 10,000 seconds in the mornings, 10,000 seconds around
noon, and 10,000 seconds in the afternoons. The standard of this research
was based on the World Society for Protection of Animals (WSPA) standard.
The researcher was also accompanied by a photographer and a videographer.

Unfortunately, the researchers could not find out about the age of both
orangutans in Solo's Taru Jurug Animal Park, due to unavailability of their
records, including medical records. The Centre for Orangutan Protection
estimated Toni's age was around 15 year old, while Tina 6 year old. But due
to severe undernourishment their appearance were smaller and weaker than the
common, normal, orangutans.

The Centre for Orangutan Protection has conveyed the result of this research
to the Solo administration and had been intensively communicating the
options to conduct an improvement.

At present, the Taru Jurug Animal Park is co-managed by the City's Agency of
Agriculture, Agency of Public Works, Agency of Tourism, Agency of City
Planning and the City Mayor's Third Assistant of Economy.

The Centre for Orangutan Protection has offered various measures to take
including a commitment to support the costs.

These were the options offered by COP:
1. Rebuilding the enclosure. And while waiting for the new home ready, the
orangutans could stay at the Jogja's Animal Rescue Center (PPSJ), a safer
place which was just being rebuilt by a collaborating team of COP and PPSJ.
2. Relocate the orangutans to an island in the middle of a lake inside the
Taru Jurug Animal Park. This is the best option because the island has a
large tree for the orangutans to live almost normally as those in the wild.

Every single option was rejected by the Head of Agriculture Agency, even
when the others agreed to these offers of help, including the Central Java
Natural Resource Conservation Agency. Now there is only one orangutan living
in the Taru Jurug Animal Park, and she could be dead anytime due to bad
treatment.



For more information please contact:
Seto Wibowo, Captivity Program Coordinator COP.
Email            : seto.wibowo@cop.or.id
Mobile            : 08121156911

Hardi Baktiantoro, Principal COP
Email            : hardi.baktiantoro@cop.or.id
Mobile            : 08121145911

For pictures, please contact:
Hery Susanto, Photo Desk COP
Email            : hery@cop.or.id
Mobile            : 08121147911

Press Release Terakhir