GILA DALAM KURUNGAN

(27 Mei 2009)

SIARAN PERS :
GILA DALAM KURUNGAN
Kondisi orangutan di kebun binatang Indonesia.
Untuk disiarkan .

Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Departemen Kehutanan untuk
serius mengawasi pemeliharaan orangutan di kebun binatang. Desakan ini
didasarkan pada hasil riset COP yang menunjukkan bahwa hampir seluruh
orangutan yang berada di kebun  binatang di Indonesia, saat ini berada
dalam kondisi yang buruk. Para pengelola cenderung mengabaikan prinsip -
prinsip kesejahteraan binatang (animal welfare) yang disepakati oleh
berbagai asosiasi kebun binatang seperti  World Association of Zoos and
Aquariums (WAZA) dan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI),
yakni:
1. bebas dari rasa lapar dan haus.
2. bebas dari ketidaknyamanan secara fisik.
3. bebas dari luka, sakit dan penyakit.
4. bebas mengekspresikan perilaku secara normal.
5. bebas dari stress dan tekanan.


COP melakukan penilaian pada 28 orangutan di kebun binatang Surabaya,
Solo, Yogya, Bandung dan Jakarta. Penilaian dilakukan hanya pada orangutan
yang dipamerkan, tidak termasuk orangutan yang disembunyikan, dipakai
untuk pertunjukan atau dalam masa karantina. COP menghabiskan 30.000 detik
untuk menilai setiap individu orangutan.


Pada umumnya, kebun binatang di Indonesia masih menggunakan kandang
berjeruji untuk memamerkan orangutannya kepada pengunjung. Beberapa kebun
binatang telah meninggalkan gaya kandang berjeruji dan menggantikannya
dengan kurungan terbuka mirip pulau (enclosure). Hampir seluruh orangutan
yang dikurung dalam kandang berjeruji,   kondisinya lebih buruk
dibandingkan yang ditempatkan di enclosure. Mereka tidak mendapatkan akses
air untuk diminum, minim interaksi sosial dengan orangutan lainnya dan
kandang kosong tanpa fasilitas bermain.


"Mudah untuk mengenali gejala stress pada orangutan karena mirip dengan
manusia. COP mendokumentasikan berbagai gejala stress dan gila seperti
membenturkan tubuh, memuntahkan makanan dan memakannya kembali, menjilati
puting susunya sendiri, minum air kencing serta menghabiskan waktu dengan
tidur dan duduk bengong tanpa ekspresi," kata Drh. Luki Wardhani,
Captivity Researcher COP. Menurutnya, hal ini seringkali  disebabkan oleh
buruknya kualitas hidup orangutan tersebut.


"Kebun binatang sebagai lembaga konservasi ex situ  sudah seharusnya
memperlakukan koleksi satwa sebagai spesimen hidup yang bernilai, bukan
memperlakukannya seperti sekarang ini. Kebun binatang cenderung
mengeksploitasi orangutan untuk hiburan dan lelucon bagi pengunjung. ,"
kata Seto Hari Wibowo, Captivity Campaign Manager COP.



Informasi lebih lanjut harap menghubungi:
Seto Hari Wibowo, Captivity Program Manager di nomor telepon
0818333446446. Email: seto.wibowo@...
Drh. Luki Wardhani, Captivity Researcher di nomor telepon 08155509748.
Email:luki.wardhani@...

Foto dan video harap menghubungi:
Hery Susanto, Picture Desk di nomor telepon 0819816911 / 021 7395877
Email: hery.susanto@...


WAHYUNI MANGOENSOEKARDJO
and orangutan

COP I Centre for Orangutan Protection
World Trade Centre Complex
Wisma Metropolitan II, 6th Floor
Jalan Jenderal Sudirman Kav.29
Jakarta 12920 INDONESIA
T / F : +6221 7395877
E:  yuyun@...
www.cop.or.id



Press Release Terakhir