Perdagangan Primata untuk Kepentingan Penelitian yang Mengejutkan

(15 April 2009)

Panggilan bagi Pemerhati satwa agar Indonesia ditangguhkan dari CITES setelah  investigasi pengungkapan perdagangan satwa primata.

BUAV,adalah kelompok perlindungan satwa  Internasional, meminta agar Indonesia ditangguhkan dari Konvensi Perdagangan Internasional Mengenai Satwa Terancam Kepunahan (CITES). Permintaan dilakukan bersamaan dengan, penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh BUAV dalam mengungkapkan pelanggaran perdagangan primata dari Indonesia untuk kepentingan industri penelitian internasional, yang melibatkan  banyak negara termasuk Amerika, China, dan Jepang. Laporan yang di terbitkan oleh BUAV memuat bahwa Indonesia melanggar aturan mengenai satwa liar  yang berlaku di Indonesia, juga mengalami kegagalan dalam menerapkan aturan CITES dan melanggar panduan internasional mengenai kesejahteraan satwa. Panggilan ini datang dikarenakan Indonesia mengumumkan peningkatan drastis tiga kali lipat dalam jumlah penangkapan (15,000) monyet (Macaca fascicularis) dari alamsepanjang tahun 2009.

Indonesia “secara resmi” melarang ekspor tangkapan alam primata untuk kepentingan penelitian di tahun 1994 dan menyatakan hanya mengizinkan primata (red. Monyet) hasil penangkaran yang boleh di ekspor. BUAV mempercayai, bagaimanapun, larangan ini adalah kepalsuan, karena terjadinya kombinasi lemahnya penegakan hukum oleh otoritas pemerintah Indonesia serta  penerapan yang salah dalam penggunaan kode perijinan ekspor CITES. BUAV mempercayai bahwa ekspor Monyet tangkapan alam  masih berjalan  dan berakhir di industri penelitian internasional.

Bukti lebih lanjut yang dikumpulkan yang menjadi perhatian oleh BUAV terjadi salah prosedur terkait izin penangkapan dan kevalidasian serta objectivitas survey populasi monyet. Pelanggaran terbesar berkaitan dengan panduan internasional mengenai kesejahteraan satwa yang di susun oleh perkumpulan primatology Internasional, termasuk kondisi monyet tangkapan alam yang dalam situasi buruk di pedagang, monyet terdesak dalam kandang transportasi di belakang mobil truk , dalam kondisi yang buruk di perusahaan penyalur  dan penangkaran primata dimana monyet tersebut disimpan di kandang yang tidak memadai.

Kejelasan nasib dari banyak monyet bertujuan akhir – di laboratorium penelitian – dalam kondisi yang pesakitan, penderitaan dan kematian. Salah satu contoh, di Amerika, monyet yang berasal dari Indonesia di paksa untuk meminum alchohol. Hal ini dikombinasikan dengan operasi mutilasi monyet betina atau disengaja diberi pakan yang mengakibatkan penyakit atherosclerosis. Monyet lain yang dikirim ke Jepang, secara pelan-pelan diberikan bahan beracun yang mengandung logam berbahaya selama setahun sebelum akhirnya di bunuh.

Ketua Eksekutif BUAV, Michelle, Menyatakan : “Investigasi yang dilakukan mengungkapkan perlunya perhatian khusus menyangkut pelaksanaan dan penegakan hukum di Indonesia dan aturan CITES. BUAV memanggil kepada CITES untuk menangguhkan keanggotaan Indonesia selama penyelidikan lebih lanjut. Kami mengharapkan pemerintah Indonesia tidak hanya melihat temuan dari investigasi ini tetapi juga melihat dampaknya secara internasional mengenai reputasi Indonesia. Oleh Karena Itu, kami memohon kepada President, Dr. H. Susilo Bambang, Yudoyono untuk melindungi kekayaan populasi primata dan memastikan segara dilakukan tindakan untuk menghentikan kekejaman dan penderitaan  yang menggemparkan.”

Untuk Unformasi lebih lanjut , Salinan laporan, video dan photo kegiatan, harap menghubungbungi : Sarah kite, Director of Special Projects, British Union for the Abolition of Vivisection (BUAV), London, UK at sarah.kite@buav.org or +44 207 700 4888. Links to a selection of images.

All images are copyright BUAV and must be credited  to the BUAV:
http://www.buav.org/downloads/media/Prim_Infant_Macaques.jpg
http://www.buav.org/downloads/media/Main_Image.jpg
http://www.buav.org/downloads/media/Prim_Supply_02.jpg

Informasi ini didistribusikan oleh
Indonesian Conservation Media Center (ICMC), Media center virtual untuk isu-isu konservasi
www.mediakonservasi.org

Press Release Terakhir