Apa sih yang terlintas di benak kita saat melihat anak orangutan? Lucu... imut... menggemaskan, mungkin... Sepasang bola mata yang bening polos, wajah yang mirip manusia, dan perilaku yang bisa membuat kita tersenyum... Pernahkah terbesit keinginan untuk memelihara seekor anak orangutan di rumah? Tidak ada salahnya, bukan, jika kita memeliharanya? Toh dia juga akan punya tempat berlindung, diberi makanan... Tapi, tahukah kita apa yang harus dilakukan supaya anak orangutan itu sampai di rumah kita? Ternyata butuh banyak pengorbanan untuk bisa memelihara orangutan, dan yang dibicarakan di sini bukanlah pengorbanan kita, melainkan pengorbanan si orangutan itu sendiri. Mari kita tengok bersama.
Orangutan adalah satwa langka yang hanya ada di hutan hujan tropis di pulau Sumatra dan Kalimantan (Borneo). Kita sebagai orang Indonesia boleh bangga karena negara kita adalah salah satu dari dua negara di dunia yang merupakan habitat dari satwa ini (selain Malaysia). Bahkan, negara kita didiami lebih banyak sub-species orangutan daripada negara tetangga kita. Setiap tahunnya orangutan hanya bisa beranak satu ekor saja, tidak seperti hewan lain, seperti tikus, misalnya, yang dapat beranak berkali-kali dalam setahun dan sekali beranak bisa menghasilkan 5 – 6 anakan.
Orangutan adalah jenis primata yang hidup menyendiri, kecuali betina yang masih mempunyai anak yang belum disapih. Seorang pemburu satwa liar kemungkinan besar harus membunuh induknya untuk dapat mendapatkan seekor anak orangutan. Dalam perburuan itu si anakan bisa jadi terjatuh dari gendongan induknya yang terbunuh dan terluka. Si anakan kemudian dibawa untuk dipindahkan ke tangan penjual satwa. Dalam pemindahan itu, si anakan dimasukkan ke dalam kandang yang seringkali tidak layak dan tertutup rapat. Kadang-kadang si anakan hanya dimasukkan ke dalam kardus yang kemudian dijejalkan ke dalam truk yang padat berisi banyak satwa liar lainnya yang diambil secara ilegal dari habitat mereka di alam. Ia menempuh perjalanan selama berjam-jam sampai pada akhirnya ia tiba di tangan penjual satwa.
Di tangan penjual satwa, kondisi si anakan orangutan pun semakin buruk. Bahkan, sering ditemukan anakan orangutan yang mati dalam perjalanan dari pemburu ke penjual satwa. Mereka hanya diberi makan seadanya dan dikurung dalam kandang yang sempit sampai ada calon pembeli yang tertarik membelinya.
Setelah mengetahui hal ini, masih maukah kita memelihara anakan orangutan? Bayangkan jika hal yang sama terjadi pada kita, manusia. Banyak kasus human trafficking yang terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Maukah hal yang sama terjadi pada anak-anak kita? Masih inginkah kita supaya anak-cucu kita melihat orangutan di habitatnya, bukan hanya membaca dari buku atau melihat film dokumenter?
Jadi...
Sayang... atau egois?