Orangutan dan Pemanasan Global

(22 Juni 2010)

Terdapat empat taksa kera besar  di dunia ini yaitu, gorila, simpanse, banobo, dan orang utan. Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga lainnya hidup di Benua Afrika. Terdapat dua jenis orangutan, yaitu orangutan Sumatra (Pongo abelii) yang  penyebarannya terbatas pada bagian utara Sumatera dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), yang masih terdapat di beberapa tempat yang merupakan kantong-kantong habitat di Sabah dan Sarawak terutama di daerah rawa gambut serta hutan Dipterocarpaceae dataran rendah di bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito (Propinsi  Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah), serta sebelah timur Sungai Mahakam ke arah utara (Provinsi Kalimantan Timur dan Sabah)..

Gambar Bayi OrangutanHilangnya habitat perburuan serta perdagangan masih merupakan ancaman utama terhadap keberlangsungan hidup orangutan di Indonesia. Populasi orang utan semakin menyusut dan ditempatkan dalam Red List IUCN dalam kategori kritis (critically).Tanpa upaya dan tindakan nyata dalam menyelamatkan keberlangsungan hidup orang utan, kita hanya akan menunggu waktu kera besar tersebut hilang dari Sumtra dan Kalimantan.

Salah satu upaya yang telah ilakukan pemerintah adalah dengan menjalin kemitraan dengan lembaga nasional dan internasional dalam menjalankan program konservasi orang utan. Namun, ditengah berbagai ancaman yang telah ada, terdapat satu lagi permasalahan  yang tidak hanya mengancam kelangsungan hidup orang utan, tetapi juga semua makhluk di bumi ini. Pemanasan global sebagai hasil dari pencemaran yang dilakukan oakibat aktivitas manusia telah mengubah pola iklim dan fenomena alam secara signifikan.

Perubahan iklim yang terjadi menyebabkan menurunnya sumber pakan orang utan di hutan. Pola iklim dan musim yang tidak terduga menyebabkan terganggunya sistem perbungaan dan perkecambahan vegetasi yang menjadi pakan dan tempat berlindung satwa ini. Akibatnya, tingkat keberlangsungan hidup akan semakin kecil karena sumber penghidupan mereka semakin habis. Selain itu perubahan iklim menyebabkan semakin sering terjadinya fenomena La Nina dan El Nino yang menyebabkan kerusakan habitat orang utan. Sebagai contoh adalah El Nino yang melanda Indonesia tahun 1997/1998 yang menyebabkan kebakaran hutan hebaGambar Kebakaran  Hutan yang hampir tiap tahun Melanda Indonesiat di hutan-hutan tropis Indonesia. Akibatnya orang utan menjadi salah satu korban yang tak terhitung jumlahnya yang pada akhirnya populasi semakin menyusut dan habitat alaminya hilang akibat kebakaran tersebut.


Kehilangan orang utan di habitat alaminya merupakan suatu kerugian besar karena keberadaannya menjadi salah satu pengisi mata rantai kehidupan hutan tropis Sumatra dan Kalimantan. Orang utan berperan penting dalam penyebaran biji berbagai jenis vegetasi yang menjadi pakannya. Selain itu, nilai keanekaragam hayati yang ada tidak dapat tergantikan oleh satwa lainnya di dunia ini.

 

Sumber:

http://www.wwf.or.id/berita_fakta/reports/?10300/Dampak-Perubahan-Iklim-Terhadap-Habitat-Orangutan. Tanggal 14 Juni 2010.

Berita Konservasi Terakhir