NTD - NEWS; Sabtu, 03 Juli 2010
Kehilangan lingkungan dan perburuan mengancam kelangsungan hidup badak Sumatra, satu-satunya spesies badak berambut di dunia.
Kurang dari 300 ekor diyakini tersisa di alam bebas, dan Yayasan Badak Indonesia berharap untuk mencegah penurunan melalui penelitian, pendidikan dan program penangkaran.
Cagar Alam Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas, adalah rumah bagi lima badak - dua jantan dan tiga betina - yang merupakan bagian dari program pembiakan intensif untuk peningkatan jumlah binatang langka itu.
[Widomo Ramono, Direktur, Yayasan Badak Indonesia]:
"Untuk membiakkan badak, itu sangat sulit sekali. Maka pengembangan kedepan adalah bagaimana lebih mengeratkan komunikasi atau hubungan antara in-situ conservation atau badak yang dilluar, dan ex-situ conservation, yaitu badak yang ada disini.”
Cagar Alam Badak Sumatra telah dibantu oleh keberhasilan kebun binatang Cincinnati, yang mengembangbiakan spesies di penangkaran, dan tahun 2007 mengirim kembali anak badak "Andalas" untuk peningkatan program pengembangbiakan.
Sebelumnya, cagar alam itu hanya memiliki badak jantan 30 tahun, Torgamba, yang produktivitasnya kurang dari Andalas.
[Widomo Ramono, Direktur, Yayasan Badak Indonesia]:
"Ada antara 28 sampai 30 badak sekarang, jadi ya masih lumayan ya disini, tapi mungkin dari kelompok hutan yang ada di Indonesia sekarang, Way Kambas ini merupakan satu benteng terakhir yang sangat bagus.”
Tidaklah mudah untuk memproduksi spesies baru badak.
[Dr Andriansyah, SRS Hewan Resmi]:
"Kendala yang pertama itu adalah cukup sulit untuk memantau atau memonitor siklus reproduksi atau siklus birahi dari badak betina.”
"Andalas" jantan sembilan tahun dan "Ratu" betina delapan tahun dikawinkan, menghasilkan kehamilan-positif pada bulan Februari.
[Dr Andriansyah, SRS Hewan Resmi]:
“Para expert juga berpendapat, expert yang kami tanya juga, oya ini buntingan, sebulan, setelah itu kita terus monitor, dan ternyata di kehamilan dua bulan, menuju ke tiga bulan, setelah kita cek lagi, itu kita tidak mendapatkan fesikel itu lagi. Kita juga cukup kaget, oh, mengapa tidak ada fesikelnya. Ternyata hasil referensi, ternyata kehamilannya itu terserap kembali oleh tubuhnya.”
Apabila kehamilannya betul terjadi, bayi Ratu akan merupakan badak Sumatra kelima yang dilahirkan di penangkaran.
http://erabaru.net/ntdtv-videos/91-ntd-news/15108-ahli-konservasi-berjuang-menyelamatkan-badak-sumatera