Si Hitam Penguasa Angkasa

(7 Juli 2010)

Elang hitam atau Ictinaetus malayensis merupakan jenis elang yang secara umum memiliki karakteristik tubuh besar berwarna hitam atau hitam kecoklatan; kepala menyempit; bulu primer panjang dan sayap lebar berbentuk dayung; ekor panjang menyempit, sekitar mata dan depan mata putih bervariasi serta mata berwarna coklat tua. Pada saat berumur remaja, burung ini memiliki ciri-ciri: bagian atas berwarna gelap seperti dewasa, dengan coretan melintang pada pantat; guratan tipis pada ekor; dengan kepala dan sisi kepala kuning gading, bagian bawah tubuh bintik-bintik putih pada bagian luar bulu primer seringkali sedikit lebih besar dari dewasa. Pada saat terbang normal, kepakan sayapnya lambat dan dalam.

Burung ini memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:
Kingdom        : Animalia     
Phyllum          : Chordata         
Subphyllum    : Vertebrata    
Class         : Aves           
Ordo          : Falconiformes                 
Familly          : Accipitridae           
Genus          : Ictinaetus             
Species       : Ictinaetus malayensis Temminck, 1822.

Secara alami, persebaran elang hitam terdapat di beberapa negara, yaitu: India Utara dan Selatan, Nepal dan Sri Lanka; Burma,(I. m. Malayensis) Cina Tengah dan Tenggara, Taiwan, melintasi Indochina dan Semenanjung Malaya, Sula hingga Indonesia. Di Indonesia sendiri burung ini dijumpai di Nias, Sumatra, Belitung, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Buton, Banggai dan Kepulauan Sula , Halmahera, Ternate, Buru dan Seram.

Elang hitam merupakan jenis burung karnivore dengan sumber makanan berupa burung-burung mamalia kecil, kadal, kata, serangga besar, umumnya lebih menyukai memakan jenis-jenis burung di sarang pepohonan tinggi, semak, padang rumput, bahkan di lubang-lubang gua.Burung ini memiliki habitat di hutan evergreen atau hijau sepanjang tahun, hutan monsoon, hutan sekunder, dan semak belukar. Burung ini biasanya dijumpai pada elevasi 300 m hingga 2.000 m dan dapat hidup pada tipe habitat yang berbeda.

Musim reproduksi burung ini antara bulan April-Agustus. Dalam sekali bertelur, burung ini menghasilkan 1-2 butir telur yang dipelihara sampai menetas pada sarang. Karakteristik sarang burung ini adalah ukuran sarang lebar 120 cm dan kedalaman sarang  45-60 cm;  tersusun dari dedaunan hijau, di puncak pepohonan yang besar, dan tersamar oleh tumbuhan pembelit. Selain itu, sarang juga seringkali ditemukan pada tebing-tebing yang curam.

Populasi elang hitam pada beberapa dekade belakangan ini semakin menurun. Hal ini disebabkan karena alih fungsi lahan hutan menjadi berbagai penggunaan lahan untuk keperluan pemukiman dan pembangunan industri. Saat ini elang hitam termasuk dalam kategori satwa dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 dan 8 tahun 1999. Selain itu juga termasuk dalam Appendix II CITES.

Sumber:
www.bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_elang_hitam.htm diunduh pada tanggal 23 Juni 2010 pukul 19.45
raptorindonesia.org/elang-hitam/ diunduh pada tanggal 23 Juni pukul 20.05

Artikel Terakhir