Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau di sebelah barat Sumatra yang terdiri dari 4 pulau besar, yaitu: Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan, dan Pulau Sipora. Pulau Siberut merupakan pulau terbesardengan luas 4.480 km2. Pulau ini berjarak kurang lebih 100 km dari pantai barat Sumatra Barat. Secara administratif pulau ini termasuk dalam Kabupaten Kepulauan Mentawai dan terbagi dalam 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Siberut Utara dan Kecamatan Siberut Selatan.
Kepulauan Mentawai terpisah dari daratan Sumatra sekitar 200 ribu tahun yang lalu. Pemisahan ini menimbulkan keunikan flora, fauna, ekosistem dan kebudayaan asli Mentawai. Sebagian besar fauna yang menghuni kawasan kepulauan ini, terdapat empat species primata endemik mentawai, yaitu: Bilou (Hylobathes klosii), Joja (Presbytis ptenziani), Bokoi(Macaca pagensis), dan Simakobu (Simias concolor). Pembukaan lahan untuk HPH maupun perkebunan kelapa sawit selama bertahun-tahun telah berakibat pada rusaknya habitat keempat jenis primata ini sehingga mengancam kelangsungan hidup mereka. Berdasarkan data Red List IUCN, keempat species ini mempunyai tingkat keterancaman yang berbeda, yaitu kritis untuk Bokkoi, genting untuk Simakobu, dan rentan untuk Joja dan Bilou.
Upaya perlindungan untuk keempat species ini telah dilakukan Pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan beberapa surat keputusan, antara lain SK Menteri Pertanian No. 327/Kpts/Um/7/1972 untuk perlindungan Simakobu (Simias concolor), SK Menteri Pertanian No. 537/Kpts/Um/12/1977 untuk perlindungan Bokkoi (Macaca pagensis) dan Joja (Presbytis potenziani), dan untuk perlindungan Bilou (Hylobathes klosii) dengan mengeluarkan Ordonansi dan Perlindungan Binatang Liar No 134 dan 226 yang telah dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Selain itu upaya penyelamatan keempat satwa ini juga dilakukan dengan penetapan Pulau Siberut dalam kawasan konservasi mulai dari penetapan suaka margasatwa, kemudian diubah menjadi suaka alam dan selanjutnay pada tahun 1980 WWF mengusulkan Pulau Siberut menjadi Cagar Biosfer karena keunikan ekosistem pulau ini. Dalam perkembangan selanjutnya Pualu Siberut ditunjuk menjadi Taman Nasional Pulau Siberut berdasarkan Surat Keputusan Menetri Kehutanan No. 407/Kpts-2/1993.
Berikut ini beberapa diskripsi singkap mengenai keempat jenis primata yang telah disebutkan pada penejlasan di depan:
1. Bilou (Hylobathes klosii)
Jenis primata ini memiliki ciri-ciri berbulu jarang dengan warna hitam gelap, terdapat selaput antara jari kedua dan ketiga. Jenis ini hidup berkelompok yang terdiri dari induk jantan, betina dan beberapa anak yang belum dewasa. Menurut Tenaza, 1982 dalam Zuwendra (2001), Bilou termasuk primata dengan sistem perkawinan monogami dengan ukuran keluarga 3,4 individu dan jumlah anggota kelompok 11 individu.
Jenis primata ini paling banyak menghabiskan waktu di atas pohon dan jarang sekali turun ke bawah. Sumber pakan Bilou adalah buah-buahan dari pohon Ficus sp, pohon nibung, liana dan lain-lain. Satwa ini lebih banyak menggunakan tangan dan lengannya untuk melompat dan berpindah dari satu cabang ke cabang pohon yang lain.Jenis ini menempati sebagian kecil dari keempat pulau dalam gugusan Mentawai. Menurut LIPI 1994 dalam Zuewndra(2001) Bilou lebih banyak hidup di hutan primer campuran dan hutan primer dipterocarpaceae (66,66%) dan hutan sekunder (33,34%).
2. Simakobu (Simias concolor)
Simakobu merupakan monyet dengan ekor pendek, badan gemuk pendek, dan semua anggota geraknya sama panjang (Zuewndra, 2001). Bulu berwarna kelabu tua atau keemasan dan hidup berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 3-15 individu. Jenis ini merupakan pemakan daun dan mendiami hutan huan rawa air tawar, hutan payau, dan hutan dataran rendah.
3. Joja (Presbytis potenziani)
Satwa ini memiliki ciri-ciri punggung berwarna hitam mengkilat, perut berwarna coklat tua, sekitar leher dan muka berwarna putih. Ekor panjang dan halus dan bergerak menggunakan keempat kakinya. Pakannya berupa uah-buahan, daun, biji, bunga dan bagian tumbuhan yang lain. Jenis ini hidup di atas pohon pada hutan-hutan primer dan sekunder.
4. Bokkoi (Macaca pagensis)
Jenis primata ini memiliki warna bulu yang gelap dan kontras sekali pada bagian pipi yang berwarna putih. Hidup berkeompok dengan jumlah mencapai 30 individu. Jenis ini mempunyai sumber pakan yang beraneka ragam mulai dari buah-buahan, daun hingga serangga dan kerang-kerangan dari hutan bakau. Satwa ini dapat hidup di hutan primer mulai dari daerah pegunungan hingga rawa-rawa.
Sumber:
Zuwendra. 2001. Makalah Primata Endemik Mentawai di Siberut dalam Konservasi Satwa Primata. Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta