Orangutan Menghitung Hari

(16 Desember 2008)

Orangutan Lesan dikepung dari kanan, kiri, depan, belakang. Pembalakan liar membuat
kurungan itu kian menciut. Jika Hutan Lesan tak segera diselamatkan, bukan hanya orangutan yang bakal punah, kehidupan penduduk sekitar juga ikut terancam.

SUNGAI lebar itu dipagari hutan yang rapat. Tajuk pepohonan yang merunduk ke arah kali terkadang menaungi katinting yang melaju lambat ke hulu. Hijau dan hijau, di  anamana. Namun kehijauan yang tenang dan menetramkan itu kerap dipecahkan oleh suara mesin truk atau gergaji yang menderu-deru di kejauhan.
 
Hutan Lesan yang dibelah sungai merupakan satu dari sedikit warisan “Hutan Borneo” yang tersisa. Ribuan pohon tua dengan diameter lebih dari satu meter memadati kawasan tersebut. Kayu gaharu dan ulin yang langka itu, meskipun tak mudah, bisa ditemukan di hutan ini. Puluhan jenis mamalia, seperti monyet ekor panjang, owa-owa dan bekantan, juga ratusan jenis burung, sejumlah reptil, amphibi, kelelawar dan bangau strom. Selain itu, Hutan Lesan merupakan salah satu “rumah” terakhir bagi orangutan, satwa langka kelas dunia yang dilindungi. Diseluruhjagat, jumlah orangutan kini tak lebih dari 6.000 ekor, dan hanya hidup di Kalimantan dan sebagian Sumatera.

Menurut survei terakhir, jumlah orangutan yang hidup di Lesan diperkirakan 190 ekor. Konon, ini taksiran yang lebih akurat. Sebelumnya, sebuah survey menyebut populasi orangutan di areal bekas hutanproduksi itu mencapai 400 ekor. Namun, menurut Nardiyono, surveyor TNC, lembaga yang menggagas perubahan status Hutan Lesan dari kawasan budidaya non-kehutanan menjadi hutan lindung, perkiraan populasi ini meleset karena menggunakan data umur sarang orangutan di Kalimantan Barat yang karakternya berbeda dari orangutan Lesan. Orangutan Lesan berasal dari varietas Pongo Pygmaeus Mario, yang hanya hidup di Kalimantan Timur.
 
Dengan luas tempat hidup 11.000 ribu ha lebih, kepadatan orangutan di Lesan mencapai 1,9 ekor per kilometer persegi – sebuah rasio yang ideal. Namun, tingkat kepadatan itu diperkirakan terus meningkat karena jumlah populasi cenderung bertambah dan luas hutan kian menyusut. Gejala dini dari penciutan kawasan hutan itu tampak dari riuhnya pelbagai kegiatan yang kini menderu-deru di sekeliling Lesan, mulai dari perkampungan, pemukiman transmigrasi, perkebunan karet, kebun sawit, hutan tanaman industri, hingga konsesi HPH. Bagi orangutan yang hidup di dalamnya, kepungan itu membuat Hutan Lesan bagaikan sangkar besi yang terkunci rapat. Mereka seperti pesakitan yang menjadi tahanan seumur hidup.
Hutan Lesan terletak di Kecamatan Kelay, di wilayah Kampung Muara Lesan, Lesan Dayak, Merapun dan Sidobangun. Untuk mencapai kawasan ini kita musti menempuh tiga jam perjalanan darat dari Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau, menuju Muara Lesan atau Long Beliu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan katinting, menyusuri Kali Kelay selama satu sampai dua jam, kemudian berbelok memasuki perairan Sungai Lesan.
Kepungan terhadap orangutan telah terasa sejak kita meninggalkan Muara Lesan dan memasuki Kampung Merapun, di sebelah selatan kawasan. Di kampung ini bercokol sejumlah perusahaan perkebunan yang telah beroperasi sejak 2006, seperti PT Berau Sawit Sejahtera (luas wilayah 6.000 ha lebih), PTGunta Samba Jaya(8.000ha lebih), dan PTYudhaWahana Abadi (hampir 12.000 ha). Selain itu, terdapat pula pemukiman penduduk asli dan kaum pendatang yang umumnya bekerja di kebun sawit atau bertani karet. Di sebelah barat, Hutan Lesan dipagari perusahaan pengelola konsesi HPH seperti PT Mardhika Insan Mulia dan PT Karya Lestari. Dan di sebelah utara terdapat perusahaan pengelola HTI, yakni PT Belantara Pusaka (luas 2.500 ha) dan pemukiman trasmigrasi Sidobangun.
 
Sementara itu, di timur terdapat pemukiman Lesan Dayak dan Muara Lesan serta kebun sawit PT Anugerah Agung Prima Abadi (10.500 ha). Repotnya, dari Hutan Lesan, letak perkebunan ini hanya dibatasi aliran sungai yang lebarnya beberapa belas meter saja. Ini batas yang kritis. Menurut Sunyoto, aktifis Word Education, lembaga yang bergiat dalam program pemberdayaan masyarakat lokal, jarak antara perkebunan dan hutan idealnya satu atau dua kilometer.

Lazimnya, tepian sungai merupakan tempat makan favorit bagi orangutan karena banyak tanaman buah yang tumbuh di sana. Dengan jarak sedekat itu, kata Sunyoto, “Konflik antara pengelola sawit dan orangutan mudah sekali meletup.”
Titik paling rawan agaknya berada di bagian selatan kawasan. Di titik ini sejumlah kabar menyebut adanya praktek penebangan liar yang kian serius. Informasi tentang illegal logging antara lain diberikan oleh Bibin Subiana, pegawai perkebunan sawit di Merapun yang tiap hari musti melajo dari rumahnya di Muara Lesan. “Itu jalan logging baru,” kata Bibin yang juga menjadi Koordinator Pekoka ini. “Saya tahu persis di sana tak ada HPH yang aktif,” lanjutnya. Artinya? “Ini jalur penebangan liar.” Menurut Bibin, kayu hasil tebangan biasanya ditumpuk di jalan logging berupa jalan tanah selebar dua truk kayu.
 
Kabar adanya pembalakan liar itu sesungguhnya bukan hal baru. Peneliti primata dari Amerika, Megan Fox, pernah melaporkan soal itu kepada TNC. Menurut Megan, penebangan itu bahkan sudah menjarah masuk ke dalam kawasan Hutan Lesan. Hasil pencitraan satelit juga memperkuat laporan tersebut. “Namun di titik mana persisnya penebangan itu kami belum tahu,” kata Niel Makinuddin, Program Manager Kehutanan TNC, mitra Orangutan Conservation Services Program (OCSP) dan 25 NGO lokal dan internasional untuk konservasi. Kata Niel, lembaganya tengah menyiapkan tim ekspedisi untuk memastikan letak penebangan liar tersebut. Di manapun titik penebangan itu, yang pasti kepungan terhadap orangutan Lesan kian serius. “Sangkar hidup” itu kian hari kian menyempit. Tanpa tindakan penyelamatan, kepunahan orangutan Lesan tinggal menunggu waktu alias menghitung hari. (bersambung)

Tulisan ini pernah dimuat di harian Tribun Kaltim edisi Rabu, 20 November 2008, atas dukungan program fellowship liputan orang utan dan habitatnya. Fellowship ini berkat kerjasama antara Orangutan Conservation Support Program (OCSP), Yayasan Pro Media dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Artikel Terakhir