Oleh : Ma’ruf Erawan
Email : uup_kanopi@yahoo.com
Orangutan merupakan sejenis kera besar yang hidup endemik di hutan tropis Pulau Sumatera dan Kalimantan. Terdiri dari dua spesies berbeda yaitu Pongo pygmaeus dan Pongo abelii.
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Animalia, Philum : Chordata, Class : Mammalia, Ordo : Primata, Family : Hominidae, Genus : Pongo, Spesies : Pongo pygmaeus; Pongo abelii
Pongo pygmaeus


Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan)
Pongo pygmaeus hidup endemik di Pulau “Borneo” Kalimantan karena itu banyak dikenal juga sebagai Orangutan Borneo. Di alam liar Orangutan Borneo mampu hidup selama 35 sampai 40 tahun, sedangkan di penangkaran mencapai usia 60 tahun. Ada 3 sub spesies Pongo pygmaeus yang hidup di Borneo, yaitu P.p.pygmaeus, P.p.wurmbii,danP.p.morio. Tiga sub spesies orangutan ini tersebar sesuai dengan daerah sebaran geografisnya dan ukuran tubuhnya.
Pongo abelii
.jpg)
Pongo abelii (Orangutan Sumatera)
Orangutan Sumatra merupakan spesies orangutan terlangka yang hidup endemic di Pulau Sumatera. Ukuran tubuhnya lebih kecil daripada Orangutan Kalimantan, memiliki tinggi kurang lebih 4.6 kaki dan berat kutang lebih 100kg. Orangutan betina lebih kecil, dengan tinggi 3 kaki dan berat kurang lebih 50kg.
Nilai Penting
Orangutan merupakan spesies yang penting sebagai salah satu spesies penentu keberlangsungan ekosistem hutan agar tetap terjaga dengan baik. Orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan. Dengan begitu, berkurangnya populasi orangutan dapat menggambarkan berkurangnya populasi tumbuhan dan hewan yang hidup pada ekosistem hutan.
Perilaku Makan
Orangutan termasuk hewan pemakan segala (omnivora), namun sebagian besar orangutan hanya memakan tumbuhan. Sebagian besar (90%) dari makanannya berupa buah-buahan, sisanya adalah kulit pohon, daun, bunga, dan beberapa jenis serangga. Kurang lebih 300 jenis buah-buahan menjadi makanan utama orangutan. Orangutan tidak perlu meninggalkan pohon untuk minum, mereka meminum air yang telah terkumpul di lubang-lubang di antara cabang pohon.
Perilaku Reproduksi
Orangutan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan orangutan betina umumnya hanya satu. Kebergantungan orangutan pada induknya merupakan yang terlama dari semua hewan, karena ada banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa bertahan hidup, mereka biasanya dipelihara sampai usia enam tahun. Orangutan berkembangbiak lebih lama dibandingkan hewan primata lainnya, orangutan betina hanya melahirkan seekor anak setiap 7-8 tahun sekali. Reproduksi orangutan sangat lambat, umur orangutan di alam liar kurang lebih 45 tahun, dan sepanjang hidupnya orangutan betina hanya memiliki tiga keturunan saja.
Populasi dan Distribusi (Persebaran)
Orangutan saat ini hanya terdapat di Sumatra (Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Di Kalimantan, populasi orangutan diperkirakan tinggal 55.000 individu sedangkan di Sumatra, jumlah Pongo abelii diperkirakan tinggal 6.500 individu.
Ancaman
Perkebunan Kelapa Sawit
Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah tempat hidup (habitat) yang semakin sempit karena kawasan hutan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun terakhir. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami pengurangan jumlah hutan tropis terbesar didunia.Sekitar 15 tahun yang lalu, tercatat sekitar 1.7 juta hektar luas hutan yang terus ditebang setiap tahunnya di Indonesia, dan terus bertambah pada tahun 2000 sebanyak 2 juta hektar.
Perdagangan Satwa Liar (Ilegal)
Dalam satu tahun, puluhan ribu primata diselundupkan keluar Sumatera untuk diperdagangkan. Tercatat lebih dari 25.000 primata diselundupkan oleh sebuah sindikat perdagangan primata dan satwa lain yang telah berhasil diungkap oleh WCU (Wildlife Crime Unit) Lampung. Nilai kerugian yang dialami oleh negara dan konservasi juga tidak sedikit, lebih dari 2,5 milyar rupiah per tahunnya. Yang lebih mengenaskan, belasan sindikat yang belum terungkap sampai sekarang masih aktif menjalankan penyelundupan primata dan telah berjalan selama bertahun-tahun.
Para pemburu memburu orangutan kebanyakan untuk perdagangan hewan karena banyaknya permintaan terhadap bayi orangutan, baik itu permintaan lokal, nasional dan internasional untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan.Anak orangutan sangat bergantung pada induknya untuk bertahan hidup dan juga dalam proses perkembangan, untuk mengambil anak dari orangutan maka induknya harus dibunuh. Diperkirakan, untuk setiap bayi yang selamat dari penangkapan dan pengangkutan merepresentasikan kematian dari orangutan betina dewasa. Perdagangan orangutan juga terjadi baik orangutan itu hidup ataupun mati.
Pada Hukum internasional, orangutan masuk dalam Appendix I dari daftar CITES(Convention on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya perdagangan karena mengingat status konservasi dari spesies ini dialam bebas.
Orangutan Sumatra telah masuk dalam klasifikasi Critically Endanger dalam daftar IUCN. Populasinya menurun drastis dimana pada tahun 1994 jumlahnya mencapai lebih dari 12.000, namun pada tahun 2003 menjadi sekitar 7.300 ekor. Data pada tahun 2008 melaporkan bahwa diperkirakan jumlah Orangutan Sumatra di alam liar hanya tinggal sekitar 6.500 ekor.
Reference :
1. Dwi Nugroho Adhiasto, 2010, Perdagangan Primata Sumatera, Wildlife Crime Unit Lampung, Wildlife Conservation Society – Indonesia Program.
2. IUCN
3. WWF
4. Orangutan Foundation International (OFI)
6. Sumatran Orangutan Society (SOS)
Image captions::