Mengenal Si Orangutan

(26 Mei 2009)

Celoteh orangutan, setiap hari mewarnai keseharian proyek Reintroduksi Orangutan, di Nyaru Menteng. Sekitar 28 kilometer dari Palangkaraya, Ibukota Kalimantan tengah.

Di tempat ini, lebih dari 200 ekor orangutan, tengah menjalani proses reintroduksi, atau pengenalan kembali ke alam sebelum dikembalikan ke habitat asli mereka di hutan. Ditangani 36 baby sitter, satwa-satwa ini pun diasuh dan diperlakukan layaknya bayi manusia sungguhan.

Orangutan adalah sejenis kera, yang berbulu coklat kemerah-merahan. Satwa yang hanya hidup di Pulau Sumatra dan Kalimantan ini, tinggi badannya sekitar 90 centimeter hingga 1,5 meter. Rentang tangannya bisa mencapai 2 meter. Berat tubuh orangutan jantan mencapai 70 hingga 90 kilogram. Sedang yang betina, berat tubuh berkisar antara 35 hingga 45 kilogram.

Di habitat aslinya, orangutan lebih banyak melewatkan waktunya dengan bergelantungan di pohon. Untuk beristirahat, mereka membuat sarang dengan ketinggian mencapai 25 meter diatas tanah. Makanan utama mereka adalah daun-daunan dan serangga.

Karena ulah manusia, orangutan nyaris punah. Mereka ditangkap untuk dijadikan hewan piaraan atau diperjual belikan. Konon, seekor orangutan, harganya bisa mencapai 15 juta rupiah. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 5 tahun 1990, sejak itu satwa ini pun dilindungi.

Proyek Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng, yang dikelola Yayasan Borneo Orangutan Survival, adalah salah satu upaya melindungi orangutan dari kepunahan. Sebagian besar orangutan di proyek ini, merupakan hasil sitaan, hanya sebagian kecil saja yang diserahkan secara sukarela oleh pemilknya.

Disini, orangutan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok bayi dan kelompok diatas 5 tahun. khusus untuk kelompok bayi orangutan, pola pengasuhan yang diterapkan, tak beda jauh dengan pola pengasuhan bayi manusia yang sesungguhnya. Seperti minum susu dengan botol, memakai pampers, atau popok bayi.

Mereka juga diberi nama seperti nama yang umum dipakai manusia, seperti Unyil, Tomboy, Poli, Miki, Mega, hingga Zidane, pemain bola kondang asal Perancis. Tingkah laku bayi orangutan, mirip pula dengan bayi sungguhan, senang ditimang, dan ingin dimanja sang pengasuh. Acapkali, bayi orangutan pun jatuh sakit. Sakit yang diderita, tak beda jauh dengan yang dialami bayi manusia, seperti flu, kejang-kejang hingga herpes.

Obat yang diberikan pun seperti yang dikonsumsi manusia, mulai dari obat panas, obat batuk hingga obat gosok. Karena itu, tak sembarang orang mampu mengasuh bayi orangutan. Hanya terbatas pada mereka yang berjiwa sosial dan benar-benar menyayangi orangutan. Sehingga akan memperlakukan bayi orangutan, layaknya anak sendiri.

Sejak pukul 7 pagi hingga 4 sore, para pengasuh atau baby sitter yang mayoritas wanita ini, membawa bayi-bayi orangutan itu ke hutan. Mereka diperkenalkan dengan kehidupan alam bebas, yang mendekati suasana habitat asli mereka. Disini mereka belajar memanjat pohon dan mencari buah-buahan sendiri.

Selain belajar hidup mandiri, hewan-hewan ini diharapkan akan terbiasa dengan kehidupan di hutan. Kadangkala, bayi-bayi orangutan ini belajar bersosialisasi dengan cara dimasukkan ke dalam kandang-kandang besar, bercampur dengan lainnya. Ketika mencapai umur 5 tahun, orangutan dianggap telah mandiri.

Mereka kemudian menjalani tahap pre-release atau tahap pra-pelepasan. Terdapat 2 pulau yang dianggap layak sebagai tempat pra-pelepasan, karena dinilai mirip dengan habitat asli orangutan. Letaknya sekitar 7 kilometer dari Nyaru Menteng.

Di tempat pra-pelepasan ini, orangutan tak lagi diberi susu. Jumlah makanan yang disediakan pun dikurangi. Dengan begitu, diharapkan mereka akan termotivasi mencari makan sendiri. Kendati demikian, kondisi mereka tetap dipantau.

Masa pra-pelepasan yang dijalani orangutan, lamanya tergantung pada, tersedia atau tidaknya habitat asli satwa ini. Sejak beroperasional Oktober tahun 1999, proyek reintroduksi orangutan Nyaru Menteng, belum pernah melepas hewan tersebut ke habitat aslinya. Pelepasan pertama diharapkan Januari 2004 mendatang. Itupun hanya lima ekor, dari total 242 ekor yang mengikuti proses reintroduksi. Tidak banyak memang.

Meskipun proyek reintroduksi orangutan Nyaru Menteng, belum menampakkan hasil, namun pekerjaan memperkenalkan kembali orangutan pada habitat aslinya, bukanlah hal yang mudah. Butuh kesabaran dan dukungan berbagai pihak, agar upaya ini menuai hasil. Kepunahan orangutan pun tak perlu dikhawatirkan lagi. (Sup)

 Sumber : Indosiar


Artikel Terakhir