Ketika Sungai Kian Keruh

(16 Desember 2008)

Fungsi Hutan Lesan terus merosot: air sungai penuh lumpur — ikan, bangau storm dan lebah madu mulai menghilang. Kehidupan warga kian sulit. Niat pemerintah pembangun pembangkit listrik tenaga air ikut terancam.

DARI atas katinting, wajah Sungai Lesan tampak coklat keruh. Airnya mengalir lamban, seperti keberatan lumpur. “Tidak banjir sekalipun, airnya tetap keruh,” kata Bibin Subiana, warga Muara Lesan yang tiap hari melintasi kali itu dalam perjalanannya ke tempat kerja di Merapun. “Mencari ikan jadi sulit,” tambah Abet Nego, anak Wakil Ketua Adat Lesan Dayak, “Pakai jaring sekalipun jarang dapat.”
 
Abet yang sejak kecil hidup berkubang di Sungai Lesan punya cerita. Dulu, sungai itu bening bagai kaca. Pelbagai jenis ikan gampang dilihat dari atas katinting, bahkan mudah pula ditangkap tangan kosong. Lauk pauk melimpah. Sungaikaca itu menjadi sumber protein murah bagi warga. Selain berladang, ikan merupakan penghasilan utama warga Dayak Punan yang telah puluhan tahun mendiami kawasan tersebut.
Tapi larutan lumpur terus menebal mengeruhkan sungai dan mengusir makhluk hidup di dalamnya.

Bersama raibnya ikan, hengkang pula bangau storm (Ciconia stormi), salah satu satwa langka dunia, yang juga hidup di Lesan selain orangutan. Menurut Bupati Berau, Drs H Makmur HAPK MM yang mengutip satu penelitian, dari 1.000 populasi bangau storm di seluruh jagat, ada 300 ekor yang hidup di sini. Namun Juni lalu, ahli burung Amerika Serikat yang jauh-jauh dating ke Lesan tak menemukan satu pun burung langka itu. “Mungkin karena air keruh, bangau tak bisa lagi cari ikan,” kata Abet yang sering menjadi pemandu peneliti asing.
 
Burung bangau yang tak menemukan mangsa gampang berpindah tempat hidup, mencari makan di tempat lain. Tidak demikian dengan warga di sekitar Hutan Lesan. Mereka terpaksa tetap tinggal di daerah yang turun temurun diwariskan nenek moyang itu, meski stok pangan kian menipis. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan: mengganti ikan dengan lauk lain yang bisa dibeli di pasar. Kini, menu sehari-hari warga Muara Lesan, Lesan Dayak, Merapun dan Sidobangun bukan lagi ikan kali, tapi ayam potong — tak beda dengan orang kota yang hidup di luar hutan.

Selain ikan dan bangau, lebah madu juga mulai terusir. Dulu, kata Abet, madu Hutan Lesan yang terkenal bersih dan hygienis itu behamburan begitu saja. Mudah ditemukan, gampang didapat, ada di manamana. Kini, kemelimpahruahan madu-hutan itu tinggal kenangan. Kalau pun ditemukan, madu hutan hanya terdapat di beberapa titik di sekitar Kampung Muara Lesan.

Sulit dibantah, keruhnya air sungai, hilangnya ikan, bangau dan lebah hutan merupakan sinyal merosotnya “kesehatan” Hutan Lesan. Sejauh mana kemunduran itu berlangsung? Apakah pertanda ini baru merupakan gejala awal atau sudah menjadi krisis menahun yang serius? Kita tak tahu persis. Yang pasti, alam selalu mencari keseimbangan baru. Semua makhluk hidup di Hutan Lesan, atau di hutan manapun, saling bergantung satu sama lain. Seperti bangau yang menggantungkan hidupnya pada ikan, ikan juga bertumpu pada stok makanan dan oksigen di dalam sungai. Jumlah ikan menyusut karena tak bisa bersaing memperebutkan oksigen yang diserobot organisme lain yang terbawa larutan lumpur. Dan ketika bangau storm menghilang, pasti ada sejumlah makhluk hidup lain (pemangsa bangau, jasad renik pemamah kotoran burung, dll) yang ikut dirugikan.
 
Begitu juga ketika lebah hutan minggat — barangkali lantaran desakan polusi atau karena terlalu banyak diburu (overhunting). Perginya lebah hutan pasti mengurangi penyerbukan bunga. Akibatnya, pasokan buah anjlok sehingga mengancam kehidupan orangutan, burung dan hewan pemangsa buah lainnya. Dampak berikut: penyebaran biji menyusut, pasokan bibit/benih pohon hutan menurun, regenerasi hutan terganggu, begitu seterusnya hingga tercapai satu keseimbangan alam yang baru.

Jika hilangnya ikan dan lebah hutan mudah ditengarai, maka punahnya satu atau dua jenis makhluk hidup biasanya sulit dideteksi, karena tidak langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Merosotnya keanekaragaman hayati lazimnya diukur melalui survey yang mendalam dan komprehensif.
Survey terakhir menunjukkan bahwa Hutan Lesan dihuni 52 jenis mamalia, 118 jenis burung, 18 jenis kelelawar, 12 jenis amphibi, dan beberapa jenis reptil, termasuk biawak. Di antara kekayaan Hutan Lesan adalah orangutan varietas Pongo Pygmaeus Mario yang hidup endemik di Kalimantan Timur, bangau strom, owa-owa (Hilobates moulleri), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), dan monyet hidung besar alias bekantan (Nasalis larvatus).

Kekayaan jenis primata di Lesan agaknya didukung oleh pasokan pakan yang melimpah. Survey mencatat, sedikitnya terdapat 45 jenis pohon buah makanan kesukaan primata, seperti jambu-jambuan, kayu kacang, resak, kayu arang, meranti merah, kapur, keranji, medang, durian hutan, kenari, rengas, meranti pandan dan pasang. Selain itu, Hutan Lesan juga dipenuhi tumbuhan sumber obat-obatan alami warga Dayak. Menurut Abet, leluhurnya banyak memanfaatkan kayu bawang, akar kuning dan sarang semut untuk pelbagai pengobatan tradisional.
 
Melalui pertanda keruhnya air sungai, merosotnya jumlah ikan dan lebah hutan serta menghilangnya bangau strom, dapat dipastikan bahwa keragaman jenis makhluk hidup di Lesan, telah berkurang. Penurunan ini mungkin belum meresahkan, karena tak semua hewan dan tanaman diketahui manfaatnya, saat ini. Namun demikian, merosotnya fungsi hutan mengancam kelangsungan beberapa proyek fasilitas umum, yang secara langsung bakal merugikan masyarakat.
 
Proyek pembangkit listrik tenaga air, misalnya. Setelah membangun pembangkit listrik mikrohydro pertama di Teluk Sumbang, Pemerintah Kabupaten Berau saat ini tengah merancang enam pembangkit lain, termasuk di Kecamatan Kelay yang warganya masih menggunakan genset solar untuk penerangan. Hidup matinya proyek ini akan tergantung pada besar kecilnya debit air Sungai Kelay dan Sungai Lesan. Jika kedua sungai tersebut gagal memasok air dapat jumlah yang stabil, maka proyek “listrik masuk Kelay” ini bisa dipastikan akan batal. (bersambung)

Tulisan ini pernah dimuat di harian Tribun Kaltim edisi Rabu, 21 November 2008, atas dukungan program fellowship liputan orang utan dan habitatnya. Fellowship ini berkat kerjasama antara Orangutan Conservation Support Program (OCSP), Yayasan Pro Media dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Artikel Terakhir