Kelapa Sawit, Kuburan Bagi Orangutan

(31 Juli 2010)

Perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan sekarang ini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup orangutan. Berhektar-hektar hutan sekarang telah dirubah menjadi perkebunan, menimbulkan akibat berkurangnya habitat dan pembunuhan orangutan hanya agar manusia dapat memperoleh keuntungan yang sangat besar. Jika suatu hari hutan benar-benar lenyap, siapa yang harus disalahkan? Para orangutan yang telah hidup di hutan-hutan tersebut selama ribuan tahun, tiba-tiba mendapati diri mereka diusir dari wilayah yang selama ini mereka sebut sebagai rumah. Bahkan jika mereka berbuat satu kesalahan, mereka bisa saja dibunuh. Apakah itu adil?

            Menurut informasi dari Pusat Perlindungan Orangutan, Centre of Orangutan Protection atau COP (2008), penyelidikan lapangan menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan anggota Meja Bundar untuk Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan atau RSPO (Roundtable for Sustainable Palm Oil), seperti Wilmar, IOI, dan Agro Group terus menebang pepohonan dengan orangutan selalu sebagai korbannya. Walaupun berbagai hukum dengan jelas menyatakan bahwa mengganggu hutan primer manapun yang menampung lebih dari satu nilai konservasi merupakan sebuah pelanggaran hukum.

            Banyak hal telah dilakukan untuk mencoba menyelamatkan orangutan, tetapi nampaknya tak ada satupun yang mampu menandingi mesin-mesin moderen raksasa itu. Bahkan Departemen Kehutanan hampir tidak mampu melakukan apapun terhadap para orangutan yang kebetulan berada di luar area konservasi. Menurut COP, belum ada satu kasus pun mengenai perburuan liar, penangkapan ataupun pembunuhan terhadap orangutan dalam wilayah konsensus minyak kelapa sawit yang berakhir di pengadilan.

            Ekspansi perkebunan minyak kelapa sawit yang begitu cepat di Borneo yang merupakan sebuah respon terhadap permintaan internasional (minyak tersebut digunakan untuk memasak, kosmetika, mekanika, dan baru-baru ini sebagai sumber bio-diesel), telah mempercepat hilangnya habitat. Antara tahun 1984 dan 2003, area yang ditanami kelapa sawit di Borneo meningkat dari 2000 km² menjadi 27.000 km²: sekitar 10.000 km² berada di Kalimantan; 12.000 km² di Sabah dan 5.000 km² di Sarawak. Banyak area yang dulunya menjadi habitat utama orangutan:  dataran rendah bagian timur Sabah, lembah-lembah antara Sampit dan sungai Seruyan di Kalimantan Tengah, dsb. (http://www.iucnredlist.org/)

Fakta yang menyedihkan adalah kebanyakan masyarakat Indonesia merasa bahwa perkebunan kelapa sawit lebih penting daripada orangutan, laba tinggi yang berasal dari usaha ini membuat orang lupa akan pentingnya lingkungan dan hal lain yang harus dilakukan dengan orangutan, pemerintah sendiri lebih suka menutup mata pada apa yang benar-benar terjadi dan bagaimana keadaan negara ini bias menjadi kritis. Seperti informasi yang didapat dari COP, departemen kehutanan meragukan bahwa perkebunan kelapa memainkan peranan penting dalam hal ancaman terhadap populasi orangutan.

Artikel Terakhir