Tamu istimewa itu akan datang. Ia terbang dari Los Angeles, Amerika Serikat. “Pakai pesawat khusus. Pengawalannya sekelas kepala negara!” seorang teman tiba-tiba berseru.
Saya yang sedang berkubang mengejar tenggat tulisan Lingkungan tak menggubris omongannya. “Ah, tak ada urusannya dengan saya,” begitu saya berpikir. Apa pula hebatnya tamu itu? Paling dia seorang penyanyi atau pemusik yang mau pentas di Indonesia. Apa nilai beritanya? Atau kalau memang sang tamu punya nilai berita--seorang TKW dari Indonesia yang disiksa dan kemudian diterbangkan khusus misalnya--toh itu bukan urusan kompartemen Lingkungan dan Sains. Begitu saya mengunci dugaan saya.
Sang kawan yang berisik itu mendekat, “Ini soal badak dan jelas berurusan dengan desk Lingkungan.” Badak? Dia mengangguk. Badak naik pesawat? Dia tersenyum. Dengan pengawalan khusus? Dia membenarkan. Badak apa? Dia menggeleng. Kenapa jauh-jauh diterbangkan? Dia diam. Benarkah mendapat kawalan kelas satu? Dia kembali tersenyum. Saya yakin dia berlebih-lebihan untuk soal layanan VIP ini. Tapi dia benar: ini pasti badak yang istimewa. Dan jelas, kabar yang ia sampaikan itu merupakan porsi liputan desk Lingkungan.
Jika sang kawan tak berbohong, kisah badak itu bisa jadi sebuah liputan yang seksi. Seksi? Informasi awal yang dia berikan sudah cukup menggoda: seekor badak diterbangkan khusus dari Amerika. Segera terbetik dugaan di benak: ini pasti badak langka. Rapat kompartemen pun segera digelar. Pesan rapat jelas: cari tahu selengkap mungkin informasi tentang badak yang beruntung itu. Bahan “belanjaan” yang lengkap akan menentukan apakah usulan liputan badak akan diterima di Rapat Perencanaan yang dihadiri mulai dari calon reporter hingga Pemimpin Redaksi.
Di Tempo, Rapat Perencanaan adalah forum tertinggi yang akan mengeksekusi sebuah rencana liputan. Siapa pun boleh mengusulkan isu liputan. Siapa saja juga boleh mempertanyakan sebuah usul liputan dan bahkan membantainya habis-habisan. Pendek kata, pemberi usul harus mempersiapkan diri sebaik mungkin: dari mulai tema, angle tulisan, hingga bagaimana reportase itu mesti dijalankan. Forumlah yang akan menjadi jaksa dan hakim tertinggi.
Di rapat inilah tak jarang sebuah rencana liputan yang sudah berminggu-minggu disiapkan berakhir berantakan. Atau sebaliknya ide yang muncul mendadak malah diterima rapat. Kuncinya terletak pada bagaimana pengaju usul bisa “menjual” gagasan dan mempertahankan argumentasinya. Rapat, dengan berbagai ragam usul itu, terkadang bisa berlangsung amat lama: 2-3 jam.
Lalu bagaimana harus menjual isu badak ke forum maut ini. Tentu jika dibandingkan dengan isu-isu politik yang setiap pekan panas, cerita badak bukan apa-apa. Badak bukanlah lawan yang setanding bagi pembunuh Munir. Badak juga kalah genit dibanding Artalyta. Atau coba bandingkan dengan liputan lumpur Lapindo yang masih satu warga dalam kompartemen Lingkungan: badak kurang menderita dibanding para korban lumpur yang kelelep. Tapi ini bukan berarti isu badak, begitu juga isu orangutan, tak bisa seseksi liputan-liputan yang lain. Badak bisa menyeruduk isu lingkungan lain asal kita bisa “menjual” isu ini dengan memikat.
Tempo selalu berpegang pada prinsip “13 Layak Tempo” agar sebuah rencana liputan bisa lolos dari ujian rapat. Ke-13 prinsip itu meliputi: aktualitas, magnitudo, unsur pertama kali, angle yang tajam, informatif, dramatik, relevan, eksklusif, unik, prestisius, ada tokoh, merupakan tren baru, dan mengandung misi. Ke-13 prinsip itu tak harus dipenuhi sekaligus. Dengan berbekal empat atau lima prinsip saja, Anda sudah bisa meloloskan sebuah liputan dari rapat yang menentukan.
Aspek aktualitas misalnya menyangkut news peg atau kehangatan sebuah berita. Anda tak bisa mengusulkan peristiwa yang sudah berlangsung dua pekan lalu atau sebulan lalu. Peristiwa harus terjadi pada minggu itu juga atau kalau perlu mendahului peristiwa (ini misalnya bisa terjadi untuk liputan pengumuman kabinet atau kenaikan harga BBM).
Magnitudo menyangkut besarnya nilai berita yang akan kita jual. Apakah, misalnya, berita itu menyangkut kepentingan publik yang luas atau tidak. Unsur pertama kali yang dimaksud di sini adalah apakah berita itu merupakan kejadian pertama atau tidak. Jika bukan merupakan kejadian pertama, maka pengaju usul biasanya memakai kriteria lain untuk mendukung argumentasi.
Angle sebuah liputan haruslah tajam, fokus, dan spesifik. Umumnya pengaju usul lemah ketika mengajukan angle reportase. Seorang reporter harus bisa membedakan apakah angle yang dia usulkan cocok untuk konsumsi koran yang berumur harian atau majalah yang lebih awet. Peristiwa banjir, misalnya, tentu lebih cocok untuk media koran. Majalah bisa saja mengambil liputan banjir itu, tapi harus dengan angle yang lebih tajam dan awet; misalnya, tentang para perusak hutan di balik terjadinya sebuah banjir besar.
Sebuah berita tentu akan lebih dibaca jika berita itu informatif, dramatik, unik, relevan dan eksklusif. Relevan di sini berarti berita itu relatif punya unsur kedekatan dengan pembaca. Dramatik berarti peristiwa tersebut mengandung aspek drama yang menarik bagi pembaca. Eksklusif menyangkut perolehan sebuah berita yang hanya diperoleh oleh wartawan itu.
Aspek-aspek lain seperti tokoh juga menjadi pertimbangan penting. Jika nama-nama yang terlibat dalam sebuah peristiwa semakin dikenal, maka berita akan semakin mendapat perhatian pembaca. Tren juga perlu dipertimbangkan. Bila merupakan tren baru, maka berita tersebut punya bobot lebih untuk diliput. Sedangkan misi menyangkut kebijakan perusahaan. Tempo misalnya amat peduli pada pemberantasan korupsi. Karena itu berita-berita pemberantasan korupsi selalu mendapat tempat utama.
Nah, pertanyaannya, bagaimana membuat isu badak bisa memenuhi kriteria “layak Tempo”. Pertama, isu ini harus ditekankan penting bagi konservasi lingkungan. Jumlah badak Sumatera sudah amat langka (jumlah sebaiknya disebutkan), sehingga usaha mendatangkan badak dari Amerika untuk dikawinkan dengan badak yang ada di Lampung merupakan upaya konservasi yang harus didukung. Sebutkan bahwa badak bernama Andalas itu adalah badak Sumatera pertama yang lahir di penangkaran setelah 118 tahun. Ini cukup memenuhi prinsip pertama kali dalam 13 kriteria itu.
Kedua, tekankan aspek keunikan dan drama di balik kedatangan sang tamu istimewa ini. Reporter yang kami tugasi menemukan data yang menarik. Misalnya saja, badak dikawal oleh tiga orang dokter dan seorang pawang dari Amerika. Ini belum termasuk dokter dari Indonesia. Sang badak juga menghabiskan biaya perjalanan sampai Rp 665 juta.
Hal lain yang harus “dijual”: badak dikenal sebagai hewan yang amat sensitif. Ia harus dalam kondisi tenang, tanpa gangguan dalam perjalanan. Karena itu perjalanan Andalas pun harus dihitung secermat mungkin, baik saat akan mendarat di bandara, dibawa oleh kontainer, naik kapal feri, hingga sampai ke Way Kambas. Tak boleh ada suara yang bisa membuat Andalas stres.
Lalu ada faktor penting lain dan sekaligus lucu yang perlu dikemukakan: setiap hari sejak berada di kebun di Cincciniati, Amerika Serikat, Andalas ereksi setiap pagi! Dia harus segera dikawinkan agar tidak beringas. Karena itu perjalanan pulang kampung melintasi negara dan lautan menjadi misi yang penting. Dari hal yang lucu ini kita justru menemukan angle yang tajam dan unik: Andalas menjemput kekasih.
Jadilah cerita tentang Andalas tersebut diterima secara bulat dalam rapat. Kami bahkan diminta forum Rapat Perencanaan untuk mengikuti perjalanan Andalas sejak dia mendarat di bandara hingga ia menemukan sang kekasih. Kalau perlu menongkrongi bagaimana dia bercumbu.
Inilah salah satu contoh bagaimana sebuah ide liputan dikemas, sejak dari munculnya informasi pertama hingga bagaimana menyuguhkannya ke hadapan pembaca. Kami berkubang dengan ide-ide konservasi lingkungan dan mesti siap bertarung “menjual” ide itu setiap pekan.
Untuk tema satwa langka, Tempo menyuguhkan beberapa liputan pada tahun lalu. Antara lain tulisan feature gajah yang menderita kurang makan dan mati cacingan di Way Kambas, penyu yang menyantap plastik di Kepulauan Seribu, kanguru tanah yang pulang kampung di Papua, curik Bali yang hanya tersisa lima ekor di habitat aslinya, elang bondol yang terancam punah, hingga orangutan yang berjejalan di pusat rehabilitasi dan harus menghadapi ancaman pembukaan perkebunan kelapa sawit yang mempersempit habitat primata ini.
Isu satwa langka memang tergolong “pinggiran” jika dibandingkan dengan berita-berita politik dan ekonomi. Tapi bukan berarti isu terabaikan ini tak bisa dijual. Status “terabaikan”, “pinggiran”, “langka”, “terancam punah” dan sejenisnya justru menjadi modal dan kekuatan penting tema ini. Masalahnya adalah bagaimana kita mampu menyelam ke kedalaman isu itu, mencari sisi uniknya, dan menyuguhkannya sebagai tulisan yang hidup. *
* Penulis Redaktur Tempo